Istrimu bukan pembantu

Tulisan ini didasarkan atas pendapat pribadi dan dari beberapa sumber lain

Curhatan dari istri, efek obrolan di teras rumah..

  • A : “Tak liatin dari tadi kerja di rumah sendiri Bu? Suaminya kemana ?”
  • B : “Lagi di Jakarta Mba.. Kerja.”
  • A : “Owh..gitu. Trus apa-apa dikerjain sendiri dong ?”
  • B : “Iya Mba..Tapi kalau ada suami sih dibantu..Saling membantu lah Mba”

Kata istri saya. Betapa bersyukurnya dapat suami seperti saya, dibesarkan dalam keluarga yang memegang prinsip gotong royong dalam menyelesaikan tugas rumah tangga.  Saya tidak segan ikut membantu mencuci baju, menyapu,  dan sebagainya. Cuma ada yang belum bisa saya lakuin katanya, yaitu masak.. Ahahaha. #ngaku

Sementara di sisi lain ada realita yang terjadi di sekeliling saya, menyaksikan dengan mata kepala sendiri seorang istri yang bekerja keras sampai hampir kolaps sementara suaminya asyik santai duduk di kursi sambil baca koran.. Menyadarkan saya bahwa bagaimana seorang lelaki dibesarkan, akan mempengaruhi kepribadiannya kelak setelah dewasa. Ada juga seorang ibu yang bekerja keras sementara anak-anaknya malah tidak membantu sekali pekerjaan rumahnya (padahal sudah dewasa semua lho.. 😦 )

So I take this raw conclusion: seorang anak laki-laki yang sedari kecil melihat figur seorang ayah yang family man, penyayang dan tidak enggan membantu pekerjaan istri maka akan menerapkan hal yang sama kelak ketika ia berumahtangga.

“Fathers! Please show good role modeling to your sons by helping out at home.”

Begitu juga yang sekarang sedang saya tanamkan pada putri pertama saya, Putri. Sejak dari kecil sudah saya tanamkanpengertian bahwa tugas rumah tangga bukan monopoli kaum wanita saja. Mengajarkan bahwa sudah menjadi kewajiban anak untuk membantu orang tuanya di rumah. Baik itu anak laki-laki atau perempuan.

Setiap hari, ada hal lucu yang dikerjakan Putri, ketika saya / istri menyapu pasti dia ikut-ikutan memegang sapu dan turut membantu pekerjaan kami.  Hal lain yang tidak kalah lucunya, ketika saya / isti hendak menjemur pakaian,  putri kecil kami turut serta memberikan pakaian yang sudah setengah kering untuk dapat saya jemur. Tingkah lucunya ketika membawa ember berisi cucian itu yang kadang membuat saya kangen ketika saya berada di  Jakarta.

Membiasakan mereka untuk rajin dan peka terhadap situasi rumah. Kalo ngeliat yang berantakan, bawaannya nggak betah karena sudah terbiasa dengan kerapian.

Seorang suami yang baik tentu paham, istrinya bukan robot yang bisa bekerja 24 jam full tanpa kenal lelah. Istrinya bukan sosok sempurna dengan anak-anak sempurna, masakan yang sempurna dan rumah yang sempurna tanpa cela. Dia tak sempurna seperti juga dirimu yang jauh dari kata sempurna.

Istrimu adalah partner hidupmu, cinta sejatimu, ibu dari anak-anakmu. Istrimu, dengan segala keterbatasannya adalah juga manusia biasa. Sama halnya sepertimu, ia bisa merasa lelah, marah, jenuh dan tak berguna.

Istrimu, bukan pembantumu. Dan ia sama sekali tak layak kau anggap sedemikian rupa. Seandainya engkau posisikan dirinya sebagai pembantu dengan nafkah bulanan yang engkau berikan sebagai gajinya, maka berapa nominal yang pantas engkau berikan sebagai penebus jasa-jasanya selama ini? Berapa jumlah rupiah kau sanggup untuk membayarnya?

Dengan job description yang demikian banyaknya, skill multitasking dan kepiawaiannya menuntaskan beberapa tugas rumah secara bersamaan, mengasuh anak, memasak makananmu, mengajari anakmu ilmu-ilmu baru, melayani dirimu, mengatur keuangan keluarga, bahkan ikut serta mengambil peran mencari nafkah.

Juga mengandung serta melahirkan anak-anakmu dari rahimnya dengan susah payah dan penuh perjuangan. Dapatkah engkau membayarnya dengan uang?

Maka perlakukan istrimu dengan sebaik-baik perlakuan. Lembutkanlah perkataanmu, berilah ia udzur atas kekurangannya, seperti ia memberi udzur atas kekuranganmu. Dan jika ia bengkok dan keliru, luruskanlah dengan hikmah dan kasih sayang, bukan dengan keangkuhan dan kekerasanmu yang justru akan mematahkannya.

Luangkanlah waktu untuk berduaan saja dengannya, dengarkanlah keluh kesahnya, jadilah sahabat terbaik baginya untuk mencurahkan isi hati. Dan ketika ia penat, jadilah bahu untuknya bersandar. Kalau bukan kepada engkau, suaminya.. kepada siapa lagi ia hendak menumpahkan rasa?

Bagaimana dengan seorang ibu? Adakah waktu libur baginya? Nyaris tak pernah ada. Karena bagi seorang wanita, menjadi ibu bukanlah profesi. Ia adalah kehidupan sekaligus tempatnya mengaktualisasikan diri dengan penuh dedikasi. Being a mother is truly a blessing

Selalu dan senantiasa.. Ingatkan kembali tujuan hidup kalian berdua selama ini: striving your way together to reach Jannah. Karena kebersamaan di dunia ini tidaklah cukup.

Jika engkau masih enggan untuk turut membantunya dalam pekerjaannya, maka setidaknya, maklumilah dia.. Abaikanlah debu-debu yang menempel di lantai ruang tamu, mainan-mainan yang berserakan di lantai, makanan yang belum siap terhidang di meja.. Yang kaudapati di suatu sore ketika engkau pulang kerja.

Maklumilah bahwa ia hanya punya dua tangan, dua kaki dan satu kepala untuk menuntaskan semua kewajibannya yang hampir tak terhingga itu. Maklumilah bahwa ia hanya sosok wanita biasa dengan tuntutan-tuntutan yang sederhana.

Advertisements
Istrimu bukan pembantu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s